TBC Usus: Mengenal Penyebab, Gejala dan Penanganannya

Posted on 127 views

Tuberkulosis (TBC) adalah jenis penyakit mudah menular yang disebabkan oleh serangan kuman bernama Mycobacterium tuberculosis. Meskipun pada umumnya menyerang paru-paru namun nyatanya juga dapat menginfeksi organ lain-lainnya termasuk salah satunya TBC usus.

Apa Itu TBC Usus?

Tuberkolosis usus terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi organ perut, peritoneum atau selaput rongga perut dan usus. Penyakit ini dapat menyerang dan secara umum diakibatkan oleh aliran darah, getah bening atau dahak yang tertelan pada mulut.

Pada bagian perut yang sering terjangkit ialah ileum atau saluran usus halus terakhir. Organ lainnya yang ikut dapat terserang serta terpengaruhi tuberkulosis ialah kerongkongan, pankreas, kelenjar getah bening, lambung, otak, tulang dan hati.

Dalam persebaran pasien yang terjangkit TBC usus sekitar 15 sampai 25 persennya itu juga terserang tuberkulosis paru-paru pada waktu bersamaan. Gejala dari penyakit perut ini sangatlah umum layaknya terkena infeksi pencernaan lainnya.

Dari kebanyakan kasusnya menjadi komplikasi berat serta sulit terdeteksi lebih awal. Hal tersebut pula yang menjadikan tuberkulosis sebagai penyakit sebagai penyumbang jumlah kematian di Indonesia meningkat. Untuk penanganannya sendiri tuberkulosis usus tidak jauh berbeda dengan TBC paru-paru.

Penyebab Terjadinya Tuberkulosis Usus

Penyebab terjadinya penyakit ini secara global disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Mycobacterium tuberculosis. Serta pada umumnya menyerang paru paru, namun bisa juga menginfeksi organ lain melalui beberapa jalur. Proses tuberkulosis bisa sampai hingga usus yakni sebagai berikut:

  • Menelan dahak yang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, biasanya terjadi oleh pengidap penyakit TBC paru-paru.
  • Terbawa oleh makanan yang kemungkinan terdapat bakteri Mycobacterium tuberculosis sehingga menuju ke pencernaan. Seperti memakan daging yang tidak matang atau susu tidak disterilisasi melalui pemanasan pada suhu 60 sampai 70 derajat celcius.
  • Tersebar melewati saluran limfatik dari kelenjar yang telah terinfeksiterinfeksi bakteri.

Selain itu, bakteri pembawa penyakit tuberkulosis ini juga dapat berjalan-jalan pada organ tubuh melalui peredaran darah manusia. Tidak heran jika banyak pengidap TBC yang terjadi komplikasi dengan infeksi lainnya. Seperti orang dengan TBC perut dapat berkembang menjadi TBC tulang atau usus.

Penyebab Faktor Risiko Tuberkulosis Tinggi

Setiap orang apalagi yang sudah mengidap tuberkulosis paru-paru berkemungkinan juga terserang TBC usus. Namun, terdapat beberapa hal yang membuat kondisi ini semakin meningkatkan risiko untuk terjangkit lebih tinggi.

Salah satunya yaitu memiliki sistem imunitas yang lemah, kekurangan gizi, telah terinfeksi HIV, sirosis atau gangguan hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol atau terjangkit hepatitis, diabetes melitus, penggunaan dialisis peritoneum atau zat pemisah larutan pada selaput rongga perut dan juga bepergian ke daerah yang rawan dan banyak orang terjangkit penyakit tersebut.

Gejala Dirasakan Pengidap Tuberkulosis Usus

Gelaja yang terjadi pada pengidap TBC usus biasanya tidak spesifik dan sulit untuk dideteksi lebih awal, sebab hampir sama dengan penyakit pencernaan lainnya seperti kanker usus. Namun, secara umum tanda-tanda telah terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis terjadi beberapa permasalahan.

Salah satu gejalanya yaitu sakit perut berat, demam, perut terasa penuh, diare atau konstipasi, sembelit, penumpukan pada cairan perut, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan secara drastis, mudah merasa kelelahan, pembesar hati, limpa dan kelenjar getah bening dan terjadi pendarahan pada pencernaan, bisa ditandai dengan buang air besar berdarah.

Gejala yang terjadi pada setiap orang bisa jadi berbeda-beda, tergantung dimana letak bagian yang terinfeksi dan jenisnya. Namun dalam kondisi darurat, penyakit ini dapat menyebabkan penyumbatan usus yang ditandai dengan adanya benjolan pada perut, tegang perut, dan muntah yang disertai darah.

Pengobatan atau Penanganan Bila Terjangkit Tuberkulosis Usus

Penanganan yang dilakukan oleh seorang ahli medis haruslah sesuai dengan tingkat keparahan penyakit tersebut. Dengan begitu setiap orang dengan infeksi sama bisa saja menerima pengobatan yang berbeda.

Pada beberapa kasus hanya menggunakan obat-obatan sudah dapat menyembuhkan, namun bisa juga dilakukan pembedahan apabila semakin parah. Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan jenis pengobatan yang bisa dijalani pengidap infeksi ini:

1. Menggunakan Obat-obatan

Penangan pertama yang seringkali dilakukan untuk menyembuhkan pasien dengan penyakit tuberkulosis ialah dengan memberikan terapi antituberkulosis. Bentuk terapinya bagi pengidap TBC usus sama dengan TBC paru-paru, namun dibedakan apabila pasien juga terinfeksi HIV atau resistan terhadap obat.

Pemberian obat-obatan untuk antituberkolosis yang diberikan kepada pasien biasanya secara umum di antaranya ialah Isoniazid, Rifamycin, Ethambutol dan Pyrazinamide. Selama terapi pengobatan ini berlangsung beberapa gejala yang dirasakan oleh pasien akan berangsur-angsur membaik dan sembuh.

Pada minggu pertama perawatan gejala seperti demam dan berkeringat pada malam hari akan hilang. Dan untuk yang lainnya akan selama dua minggu kemudian berangsur-angsur membaik. Namun apabila tidak ada perubahan selama dua pekan maka segeralah datang ke dokter spesialis.

Nantinya dokter akan mengevaluasi ulang guna memastikan ada atau tidaknya komplikasi lainnya yang menimbulkan gejala tetap ada. Setelah membaik bukan berarti pengobatan langsung dihentikan, bagi pengidap tuberkulosis maka harus tetap menjalani terapi antituberkulosis ini minimal selama 6 bulan.

2. Dilakukan Pembedahan

Hal ini diperlukan apabila pengidap TBC usus mendapatkan penyakit tambahan selama terjangkit atau dengan kata lain terjadi komplikasi seperti Abses, Perforasi atau timbul nya lubang pada saluran pencernaan, Fistula, Pendarahan dan Obstruksi usus.

Bentuk penanganan pembendahannya sendiri dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan pengidap komplikasi tuberkulosis. Jenis operasi yang paling umum yakni melakukan pengangkatan organ usus yang telah terinfeksi sehingga nantinya diharapkan tidak terjadi penyebaran berkelanjutan.

Pada setiap pembedahannya akan memiliki dampak berbeda-beda, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai jenis operasi sesuai kebutuhan, manfaat dan risiko yang dapat timbul nantinya. Sebab kematian dari penyakit TBC usus sekitar 8 sampai 50% meningkat seiring bertambahnya faktor lainnya.

Bentuk Pencegahan Tuberkulosis Usus

Berbagai hal dapat Anda lakukan sebagai bentuk pencegahan dari penyakit tuberkulosis usus ini di antaranya ialah:

  • Tuberkulosis terkenal sangat mudah, sehingga disarankan untuk menghindari tinggal serumah dengan pengidap TBC pada minggu-minggu pertama menjalankan pengobatan.
  • Hindari memamakan makanan atau minuman yang dapat menimbulkan atau terinfeksi oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
  • Apabila Anda merupakan seseorang yang telah terjangkit tuberkulosis paru-paru, maka janganlah sesekali menelan dahak. Buang dahak pada tempat yang mudah terpapar sinar matahari agar bakteri bisa segera mati sehingga orang lain tidak ikut terinfeksi.
  • Apabila Anda sedang menjalani pengobatan antituberkulosis, maka minunlah obat sesuai anjuran yang telah diberikan oleh dokter. Jangan pernah sesekali berhenti atau melupakan untuk meminum obat sebab itu akan menghambat kesembuhan. Serta harus mengulangi terapi dari tahap awal lagi.
  • Berikan vaksin BCG (bacillus Calmette-Guerin) pada bayi. Karena mampu mencegah buah hati Anda terjangkit tuberkulosis. Imunisasi ini pun di Indonesia tergolong wajib namun tidak efektif bila digunakan pada orang dewasa.

Nah itulah tadi mengenai definisi, gejala, penyebab serta bentuk penanganan terhadap seorang yang telah mengidap TBC usus. A baiknya bagi yang masih sehat sesuai dengan pepatah lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *